22 Jun 2016
ISLAM DAN KEBATINAN JAWA


Achmad Chodjim





Banyak sekali naskah Kebatinan Jawa yang bernuansa Islam yang ditulis oleh para pujangga Mataram Surakarta dan Yogyakarta. Naskah-naskah itu di antaranya adalah Suluk Wujil, Serat Wirid Hidayat Jati, Serat Wedhatama, Serat Bima Suci, dan Serat Centhini.


Yang paling spektakuler adalah Serat Centhini karena kitab ini ditulis tahun 1814-1823 oleh tiga orang pujangga keraton, yaitu R. Ng. Rangga Sutrasna, R. Ng. Yasadipura II (Rangga Warsita I), dan Sastra Dipura (Kiai Ahmad Ilhar). Serat Centhini ditulis sebanyak dua belas jilid dengan jumlah halaman tidak kurang dari 5.000 halaman. Serat Centhini menampilkan tokoh Islam ortodoks Jayengresmi (putra Sunan Giri Kawis Gua, dan Sunan Kawis Gua ini cucu Sunan Giri Prapen) yang berguru kepada guru-guru sufi dan guru kebatinan Hindu atau Budha di Pulau Jawa.


Naskah kebatinan Jawa yang banyak dipelajari di Jawa adalah Serat Wedhatama yang berupa puisi Macapat yang terdiri dari lima pupuh, yaitu Pupuh Pangkur, Pupuh Sinom, Pupuh Pucung, Pupuh Gambuh, dan Pupuh Kinanti yang baitnya berjumlah seratus buah. Berikut ini gambaran dari isi pupuh-pupuh dalam Serat Wedhatama.


Dari kelima pupuh tersebut Serat Wedhatama menuturkan adanya empat macam penyembahan kepada Allah (yang pada waktu itu masih disebut sebagai Hyang Widhi) dalam pupuh pertama hingga keempat. Pupuh Pangkur menguraikan tentang cara menyingkiri atau melepaskan diri dari keangkaramur-kaan manusia. Semua daya nafsu yang mendorong manusia untuk bersifat serakah harus disingkirkan terlebih dahulu. Setelah itu perjalanan laku manusia memasuki posisi Sinom, yaitu mulai menapaki jalan kasunyatan dalam hidup ini. Pada tahap Pucung, orang yang menjalankan laku batin harus membangun karakter diri yang kuat agar bisa melanjutkan perjalanan memasuki Gapura Agung, yaitu Gapura Kasunyatan, sehingga sang hamba bisa manunggal jati dengan Hyang Agung. Nah, Pupuh Gambuh merupakan ajaran agar sang pelaku hakikat benar-benar bisa masuk di wilayah Hyang Agung, yaitu manunggal jati dengan kehadiran-Nya, sehingga tak ada lagi jarak antara hamba dan Tuhannya.

Sekarang kita bisa menyelaraskan arti 4 sembah dengan keempat pupuh dalam Serat Wedhatama ini. Empat macam sembah itu meliputi Sembah Raga, Sembah Kalbu (Sembah Cipta), Sembah Jiwa (Sembah Sukma), dan Sembah Rasa. Dengan demikian, Sembah Raga adalah proses pangkur dalam hidup ini. Sembah Cipta berkaitan dengan proses Sinom, Sembah Jiwa berkaitan dengan proses pembinaan diri yang bersifat Pucung, dan akhirnya masuk ke Sembah Rasa yang merupakan kasunyatan Gambuh, manunggalnya sang hamba dengan Tuhannya. Oleh karena itu, bila seseorang sudah sampai bisa bertemu dengan Diri Sejatinya, pertanda dia sudah mendapatkan anugerah dari Tuhan yang senantiasa melihat. Hal inilah yang disebut di dalam sebuah Hadis bahwa barang siapa mengenal dirinya, niscaya ia mengenal Tuhannya. Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu.


Sembah Raga mencakup laku keislaman dan keimanan. Sembah Cipta berkenaan hidup secara qanit hingga menjadi manusia khusyuk. Tahap Sembah Jiwa berawal dari laku mutashadiq hingga menjaga kehidupan seksual, sedangkan Sembah Rasa merupakan proses pemanunggan diri dengan Tuhannya. Oleh karena itu, di dalam Alquran tahapan yang tertinggi adalah ketikaka seseorang selalu ingat Tuhannya dalam hidupnya di dunia ini. Hal inilah yang dalam Kebatinan Jawa disebut manunggal jati dengan Tuhannya sehingga kapan pun dan di mana pun ia senantiasa ingat Tuhannya. Jika salat dalam Alquran tujuan pokoknya adalah untuk mengingat Tuhan, maka salat dalam Kebatinan Jawa dinamakan salat daim mulat sarira, salat yang berkeke-kalan (tak terputus sesaat pun) untuk terus-menerus menyaksikan gerak-gerik tubuh jasmani di mana pun dan kapan pun agar tetap mengabdi kepada Tuhannya.


Dengan demikian, orang yang mempelajari ajaran dalam Serat Wedha-tama, meskipun kalimat-kalimatnya tidak sampai ribuan, bisa mengantarkan pelaku kasunyatan sampai pada tujuan hidupnya. Akan tetapi, sebagian besar orang Islam di dunia ini justru hidup di atas landasan doktrin agama, alias dalil, dan tidak pada amal-salihnya, sehingga tidak bisa membedakan antara tujuan dan sarana. Malah, kebanyakan orang menganggap sarana itu sebagai tujuan hidupnya. Padahal, hidup di bumi sendiri adalah sarana, yaitu sarana untuk meningkatkan kualitas jiwa kita. Manusia adalah jiwa, bukan raga. Dengan demikian raga hanya kendaraan dan alat untuk melakukan purifikasi diri.


download dibawah untuk selengkapnya





documents:
ISLAM DAN KEBATINAN JAWA_Makalah_ktt20juni2016_20160622120644.docx
***


Agenda
03 Nov 2017
UNDANGAN TERBUKA

PERESMIAN PERPUSTAKAAN Prof. Dr. Nurcholish Madjid

"Kepustakaan Pembentuk Pemikiran Cak Nur: Relasinya dengan Konteks Sosial"

 baca]


Rilis Pers
SIKAP INDEPENDEN NCMS 2014

Memperhatikan suasana politik jelang Pilpres 9 Juli 2014 dan pasca Pilpres sebelum penetapan Presiden dan Wakil Presiden terpilih, dirasakan cukup sensitif secara emosional yang mudah sekali menjadi pemicu yang bisa menyulut perpecahan, konflik, yang dikhawatirkan akan berakibat  lebih  serius  lagi,  yaitu  adanya ... [baca]


Agar Hukum Tidak Menjadi Fiksi

Donasi

Yayasan Sositas Nurcholish Madjid
Rekening No: 128-00-0561671-6
Bank Mandiri
KCP Tangerang BSD

Volume 8, Nomor 1

 
 
Grha STR lantai 4, Ruang 405 - Jl. Ampera Raya No 11, Cilandak, Jakarta Selatan 12550
© 2012 Nurcholish Madjid Society