02 Mar 2017
Keindonesian dan Keislaman


AHMAD NAJIB BURHANI


 


If only they weren’t here, life would be perfect, and society will be harmonious again


~ Slavoj Žižek, in Myers 2003, 108~


We live in a culture of offendedness... Classically we define ourselves by what we love – our families, our friends, our communities. Today we definite ourselves by hate. Nowadays, if nothing pisses you off, who are you?"


~Salman Rushdie 2013


      Persoalan yang berkaitan dengan “keindonesiaan dan keislaman” menjadi mengemuka kembali setelah beberapa aksi belakangan ini: Aksi Bela Islam (1, 2, 3, 4) vs. Aksi Kebhinekaan dan #KitaIndonesia. Seakan-akan identitas keislaman dan keindonesiaan tidak bisa menyatu. Kasus Pilkada DKI Jakarta 2017 ini seakan menjebak kita pada dua sudut ekstrim: with us or against us. Kalau kita tidak mendukung Ahok, sepertinya kita tidak mendukung kebhinekaan. Sebaliknya, kalau kita mendukung Ahok, maka kita akan dikecam sebagai pembela penista Islam dan karena itu keimanan dan keislaman kita akan dipertanyakan atau diragukan. Bahkan sekarang berkembang spanduk yang menuduh pemilih Ahok sebagai orang munafik yang tak berhak untuk disholati ketika meninggal nanti. 


      Kelompok pertama sering melihat kelompok lain sebagai orang-orang yang kurang menghargai keindonesian kita, kebhinnekaan bangsa ini, bergerak dengan dorongan motivasi atau semangat sektarian, serta dilandasi oleh kebencian agama dan etnis. Kelompok yang kedua menyebut lawannya justru sebagai kelompok yang tidak mau mengerti kontribusi umat Islam bagi bangsa ini, tak mau memahami keterpinggiran mayoritas oleh minoritas, dan bahkan merekalah yang sebetulnya merusak kebhinekaan itu karena mendukung orang yang dianggap telah merusak harmoni kehidupan beragama di Indonesia.  


     Munculnya berbagai spanduk tentang boikot beberapa masjid untuk mensholati para pendukung Ahok (jika mereka meninggal dunia nanti) atau menyebut para pendukung Ahok sebagai munafik dan karena itu tidak boleh disholati sebagai Muslim ketika meninggal dunia nanti adalah penggunaan simbol agama yang sangat serius dalam memerangi para pendukung Ahok. Inilah kerisauan yang membuat sebagian orang bertanya, “Apakah keislaman itu tidak compatible dengan keindonesiaan? Apakah ketaatan kepada Islam itu tidak bisa bersandingan dengan kesetiaan kebangsaan? Apakah kesalehan itu harus diwujudkan dalam bentuk intoleransi?”


      Pertentangan antara keimanan dan kebangsaan atau antara keislaman dan keindonesiaan ini digambarkan secara menarik oleh F Budi Hardiman dalam tulisannya “Kesalehan dan Kekerasan” (Kompas, 6 Januari 2017). Apakah seorang yang beriman itu harus meletakkan hukum agama di atas hukum negara? Bagaimana jika hukum agama itu tidak bisa diterapkan secara penuh dalam masyarakat yang majemuk atau bahkan bisa mengarah ada diskriminasi kelompok lain? Dalam kaitannya dengan kekerasan, diskriminasi, intoleransi, dan sentimen terhadap etnis atau agama yang berbeda, Hardiman membungkus persoalan ini dengan pertanyaan, “Apakah Tuhan memerintahkan tindakan tertentu karena tindakan itu secara moral baik atau tindakan itu baik secara moral karena Tuhan memerintahkannya?” Ini adalah pertanyaan filsafat yang jawabannya panjang dan mungkin terkesan spekulatif. Contoh yang dipakai Hardiman adalah kasus yang cukup ekstrem, yaitu para teroris: “dalam keseharian, pelaku teror dan aksi intoleran itu berperilaku santun. Mereka bukan monster sadis yang haus darah, melainkan warga baik-baik yang taat beragama”. Sasaran tulisan ini, dalam pemahaman saya, bukan hanya teroris, tapi juga para pelaku Aksi Bela Islam dan sikap-sikap yang mereka tunjukkan kepada pendukung Ahok seperti boikot mensholati mereka ketika meninggal.


      Tindakan diskriminatif dan intoleran itu sebetulnya hanyalah mengikuti perintah Tuhan. Mereka yakin tindakan adalah demi kebaikan. Tidak mungkin apa yang tertulis dalam kitab suci itu keliru atau mengarah kepada kerusakan. Hardiman yakin bahwa “radikalisme lahir dari suatu cara berpikir juga”. Namun demikian, cara berpikir itu sebetulnya dikontrol oleh faktor psikologis dan politis. Ia tidak didasarkan pada pemikiran kritis tentang ajaran agama, seperti, “bagaimana mungkin agama mengajarkan kekerasan dan intoleransi?” Orang memilih untuk taqlid buta terhadap apa yang disampaikan oleh para ulama atau penafsiran agama yang disebarkan secara gencar melalui media sosial. “Adalah nyaman berkeyakinan bahwa tindakan apa pun baik karena Tuhan memerintahkannya seperti tertulis di kitab suci karena nalar tak perlu lagi memeriksa atau menafsirkan alasan dan akibat moral tindakan-tindakan. Cukup percaya saja, jangan pernah mempertanyakan.” Atau bahkan lebih dari itu, tidak sekadar mencari kenyamanan, banyak pula yang juga yang mencari-cari ayat Tuhan untuk membenarkan kepentingan politik atau kebencian personal mereka. “Kebencian telah mendistorsi pikiran yang mencari-cari pembenaran pada ayat-ayat agama.” Sekarang, bagaimana kita melihat pertentangan ini dalam kaitannya dengan “keislaman dan keindonesiaan”? Beberapa orang memandang bahwa hukum Tuhan itu lebih tinggi dari hukum manusia. Karena itu kitab suci harus selalu berada di atas konstitusi. Beberapa orang meletakkan keumatan itu lebih tinggi daripada kebangsaan dan karena itu kesetiaan kepada agama harus di atas loyalitas kepada negara. Mereka menentang konsep negara bangsa dan mempromosikan khilafah Islamiyah. Namun kita juga menemukan banyak tokoh yang melihat keduanya bukan seperti minyak dan air, tapi dua komponen yang saling melengkapi. Orang seperti Gus Dur dan Buya Syafii adalah contoh yang berpandangan terakhir itu. Kita melihat banyak tokoh agama yang melihat tidak ada pertentangan antara keindonesiaan dan keislaman. Dialektika terus-menerus antara moralitas kebangsaan dan kesalehan keagamaan, perdebatan tentang isu “kebangsaan dan keindonesiaan” ini tentu saja telah terjadi sejak awal dari kemerdekaan kita, diantaranya ketika menyusun sila pertama Pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Isu ini sempat meredup. Namun sepertinya belakangan ini sedang naik kembali. Pertanyaannya tentu saja adalah “mengapa ini terjadi?” Untuk menjawabnya, saya ingin memulai dengan mengutip ucapan Mrs Pell dalam film Mississippi Burning (1988):


Hatred isn’t something you’re born with.


It gets taught.


At school, they said segregation what’s said in the Bible: Genesis 9 verse 27.


At 7 years of age, you get told it enough times, you believe it.


You believe the hatred. You live it… you breathe it.


You marry it.


     Film ini bercerita tentang kebencian orang kulit putih terhadap kulit hitam di Amerika Serikat, tentang bagaimana kebencian itu menyebar ke berbagai elemen masyarakat, termasuk anak-anak, dengan Ku Klux Klan sebagai aktor utama. Mengapa saya mengutip kalimat dari Mississippi Burning tersebut? Karena fenomena kebencian terhadap mereka yang berbeda itu bisa terjadi pada semua agama, bukan sesuatu yang eksklusif pada Islam, dan semua negara, termasuk Amerika Serikat. Ketika kebencian itu dipupuk dan diajarkan secara terus-menerus, dilakukan indoktrinasi kepada masyarakat, maka orang menjadi percaya dan meyakini bahwa itulah yang benar.


            Dalam kaitannya dengan kontradiksi antara “keindonesiaan dan keislaman”, maka hal itu terjadi, diantaranya, karena ia terus-menerus diajarkan, disebarluaskan, di-viralkan. Misalnya dengan mengkontraskan antara Islam dan demokrasi, antara hukum buatan manusia dan hukum Tuhan, antara sistem khilafah dan negara bangsa, dan seterusnya. Materi yang diajarkan bukanlah tentang toleransi terhadap keyakinan yang berbeda, tapi kecurigaan dan ketakutan. Anak-anak kita mulai mempercayai itu karena sejak kecil memang ditanamkan keyakinan itu. Mereka memeluknya dengan sepenuh hati dan mengobarkannya.


            Pendidikan kita selama kurang lebih 20 tahun terakhir seringkali mengajarkan itu; mengajarkan segregasi, kebencian, kekhilafahan, kerusakan sistem demokrasi, dan sebagainya. Pendidikan agama kita menciptakan segragasi di sekolah dan melihat mereka yang berbeda agama sebagai ancaman. Sekarang kita merasakan hasil dari pendidikan itu di masyarakat. Apa yang kita lihat sekarang ini adalah produk pendidikan 20 tahun yang lalu. Di sinilah mengapa kita perlu memupuk kambali ajaran-ajaran dari Nurcholish Madjid tentang keislaman, keindonesiaan, toleransi, keberterimaan terhadap kebhinnekaan dan sebagainya.


            Intinya, kontradiksi antara “keindonesiaan dan keislaman” ini telah menjadi mental construct dari sebagian masyarakat Indonesia. Kategori antara Muslim dan kafir mudah sekali ditemukan dalam film-film dan budaya popular yang kita tonton. “Jika dulu pada masa Orba itu muncul dalam figur Catatan Si Boy: ganteng, kaya dan punya banyak pacar, kini hadir dalam figur Fahri-tokoh dalam ayat-ayat Cinta --yang menanggapi apapun dalam tolak ukur Iman. Iman itulah yang jadi predikat untuk menilai situasi apapun, terutama situasi politik” (Prasetyo 2017, 30).


            Cara pandang dengan kacamata kebencian dan kecurigaan ini bukan hanya menyebar kepada kelompok yang sering disebut radikal atau garis keras, tapi juga pada kelompok yang disebet sebagi champions of moderate Islam. Kita seringkali mendengar Syi’ir Tanpo Waton yang menggambarkan toleransi yang diajarkan oleh Gus Dur diputar di masjid dan musholla orang NU (Nahdlatul Ulama) di Jawa Timur. Namun pada saat yang bersamaan, mereka juga memiliki kebencian yang kuat kepada kelompok Syi’ah.


            Aksi Bela Islam sering dipandang oleh beberapa pengamat, seperti Sidney Jones (2016), sebagai sebagai ekspresi kebencian kepada mereka yang secara etnis dan agama berbeda. Psikologi dan politik kebencian sebagai penyatu dari sebuah aksi itu mengingatkan kepada apa yang pernah terjadi di Pakistan pada 29 Februari 2016 ketika lebih dari 100 ribu orang berkumpul di Rawalpindi untuk penguburan Malik Mumtaz Hussain Qadri. Qadri adalah bodyguard yang membunuh tuannya, Salman Taseer, gubernur Punjab, tahun 2011 karena dianggap membela orang Kristen, Asia Bibi. Dalam tulisan Aatish Taseer (2016), kehadiran orang pada penguburan itu adalah, “motivated not by love for the man who was dead but by hatred for the man he killed”. Demikian pula dalam Aksi Bela Islam, dalam analisis ini, umat berkumpul bukan karena cinta atau mendengarkan ajakan Rizieq Syihab, tetapi karena kebencian terhadap Ahok.


            Tentu pandangan di atas akan dibantah oleh para pelaku aksi. Semangat yang menjadi pemicu dari berkumpulnya jutaan orang itu bukanlah kebencian, tapi cinta. Ini, misalnya, tergambar dalam buku yang disusun oleh Sinta Yudisia dan Tim Forum Lingkar Pena yang berjudul Spirit 212: Cinta Itu Menyatukan Kita (2017). Namun yang ingin digarisbawahi di sini adalah bahwa orang tidak menyadari bahwa apa yang dilakukan itu dilandasi oleh perasaan yang barangkali berbeda dari yang dikatakan. Di sini saya ingin mengutip satu pernyataan dari Salman Rushdie dalam wawancara yang ditulis oleh Annie Rutherford (2013): “We live in a culture of offendedness...  Classically we define ourselves by what we love – our families, our friends, our communities. Today we definite ourselves by hate. Nowadays, if nothing pisses you off, who are you?” (Penekanan dilakukan oleh penulis).


            Karena banjir informasi melalu sosial media dan karena indoktrinasi secara terus-menerus, seringkali orang tidak merasa bahwa apa yang mereka lakukan itu didasari oleh semangat tertentu yang berbeda dari yang kita teriakkan. Kita menganggap apa yang kita lakukan sebagai sebuah kesalehan dan bahkan jihad yang diperintahkan oleh Allah. Saya akan mengambil contoh keyakinan para penyerang Ahmadiyah. Soirin Ahmad Abdulah, sesepuh FPI Bandung Raya, yang ikut perusakan Masjid An-Nasir milik Ahmadiyah, misalnya, mengatakan, “Kita tidak kapok. Untuk kebenaran apapun kami siap. Dipenjara itu hal biasa, itu ujlah. Kalau dibunuh itu syahid bagi kami” (Detik.com 2013). Tidak ada perasaan bersalah dalam aksi tersebut, bahkan itu dianggap sebagai sebuah jihad. Hal yang sama diungkapkan oleh Handoko, penyerang gereja HKBP Bekasi, “Saya tidak pernah menyesal untuk  berjihad di jalan Allah. Bagi mujahid, difitnah itu biasa, dipenjara itu uzlah, dibuang itu tamasya, dan dibunuh adalah syahid” (Voa-Islam.com 2011). Contoh seperti ini sangat banyak. Bahkan, banyak yang meyakini bahwa menyerang kelompok semisal Ahmadiyah dan Syiah itu adalah sebuah virtue atau kesalehan. Jika diringkaskan, pemikiran itu berpijak pada keyakinan bahwa, “we force them to the ‘true path’ in order to save or rescue them from the punishment of God in the hell”.


            Kita seringkali mendefinisikan keindonesiaan kita dengan dengan keislaman versi kita disertai dengan pengabaian terhadap mereka yang memiliki keyakinan berbeda. Kita sering mengandaikan jika kelompok yang berbeda tidak ada, maka kehidupan menjadi lebih baik. Ini yang seringkali, seperti dikatakan oleh Slavoj Žižek (Myers 2009), menjadi dasar dari rasisme: “If only they weren’t here, life would be perfect, and society will be harmonious again”. Ini yang menjadi dasar dari pengusiran orang Syi’ah dari Sampang dan yang membuat orang Ahmadiyah harus tinggal di Transito sejak 2006.


            Ada yang meyakini bahwa problem utamanya adalah keadilan sosial. Kalaulah keadilan, terutama ekonomi, sudah ditegakkan, maka tindakan intoleransi akan hilang dengan sendirinya. Ada yang melihat apa yang terjadi sekarang ini hanyalah karena hukum tidak ditegakkan pada penista agama. Ada pula yang menyebut bahwa kunci persoalan ini ada pada Pilkada. Maka nanti seusai pilkada, semuanya akan kembali normal. Saya bersyukur jika memang itu yang terjadi. Namun saya meyakini bahwa apa yang terjadi sekarang ini adalah hasil akumulasi dari proses yang lama. Ini adalah dibentuk. Pilkada hanyalah momen yang tepat untuk mengekspresikan pikiran dan keyakinan itu. Kalau setelah pilkada berbagai tindakan diskriminasi tidak terjadi, popularitas Riziq Syihab menurun, dan ada penghargaan yang tinggi terhadap kemajemukan, maka apa yang saya lihat selama ini adalah salah dan saya harus merevisinya. Namun jika setelah Pilkada masih terjadi, maka kita perlu bersama-sama khawatir dan berusaha menanganinya.


            Saya sedikit lega kemarin ketika menghadiri tanwir Muhammadiyah di Ambon. Benturan antara keindonesiaan dan keislaman ini terjadi. Mungkin karena yang hadir adalah para pimpinan pusat, pimpinan wilayah, pimpinan amal usaha. Mereka menyampaikan keteguhannya dengan Indonesia. Bahwa kecintaan kepada bangsa ini adalah bagian dari perwujudan keimanan dan ke-Muhammadiyahan dan NKRI merupakan dâr al-‘ahd wa al-syahâdah, tempat berjanji setia dan mengabdi. Namun ketika satu foto dan satu pernyataan saya upload di media sosial, kita melihat benturan tajam antara keindonsiaan dan keislaman. Saya kutipkan di sini beberapa pernyataan di media sosial itu. Di sini barangkali bisa dilihat bahwa salah satu problem yang sangat serius dalam hal ini terlatak di media sosial yang menghembuskan nafas-nafas kebencian.


_________________________________


Referensi


Geertz, Clifford. 1964. The religion of Java. Glencoe, Ill: Free Press.


Jones, Sidney. 2016. “Why Indonesian Extremists are Gaining Ground.” The Interpreter, 1 November. https://www.lowyinstitute.org/the-interpreter/why-indonesian-extremists-are-gaining-ground


Hardiman, F Budi. 2017. “Kesalehan dan Kekerasan”. Kompas, kolom opini. 6 Januari.


Myers, Tony. 2009. Slavoj Žižek. London: Routledge.


Prasetyo, Eko. 2017. “Kelas Menengah Islam: Wajah Keagamaan Tanpa Ide Populis”, dalam Dede Mulyanto dan Coen Husain Pontoh (eds.). Bela Islam atau Bela Oligarki? Pertalian Agama, Politik, dan Kapitalisme di Indonesia. Jakarta: Pustaka IndoPROGRESS & Islam Bergerak.


Rutherford, Annie. 2013. “Salman Rushdie at Edinburgh Book Festival: ‘We define ourselves by hate’”. Cafebabel, 12 Agustus. http://www.cafebabel.co.uk/culture/article/salman-rushdie-at-edinburgh-book-festival-we-define-ourselves-by-hate.html


Taseer, Aatish. 2016. “My Father’s Killer’s Funeral.” The New York Times, op-ed. 11 Maret. https://www.nytimes.com/2016/03/13/opinion/sunday/my-fathers-killers-funeral.html?_r=0


Yudisia, Sinta dan Tim Forum Lingkar Pena. 2017. Spirit 212: Cinta Itu Menyatukan Kita. N.p.: Forum Lingkar Pena.


Voa-Islam.com. 2011. “Handoko & Hardonis: Demi Islam, Dipenjara Itu Uzlah, Dibuang Itu Tamasya” Sabtu, 22 Januari. http://www.voa-islam.com/read/upclose/2011/01/22/12829/handoko-hardonis-demi-islam-dipenjara-itu-uzlah-dibuang-tamasya/#sthash.15zvdpZQ.dpbs


 





documents:
Najib Burhani_Kajian Titik Temu NM Society2_20170302160305.docx
***


Agenda
03 Nov 2017
UNDANGAN TERBUKA

PERESMIAN PERPUSTAKAAN Prof. Dr. Nurcholish Madjid

"Kepustakaan Pembentuk Pemikiran Cak Nur: Relasinya dengan Konteks Sosial"

 baca]


Rilis Pers
SIKAP INDEPENDEN NCMS 2014

Memperhatikan suasana politik jelang Pilpres 9 Juli 2014 dan pasca Pilpres sebelum penetapan Presiden dan Wakil Presiden terpilih, dirasakan cukup sensitif secara emosional yang mudah sekali menjadi pemicu yang bisa menyulut perpecahan, konflik, yang dikhawatirkan akan berakibat  lebih  serius  lagi,  yaitu  adanya ... [baca]


Agar Hukum Tidak Menjadi Fiksi

Donasi

Yayasan Sositas Nurcholish Madjid
Rekening No: 128-00-0561671-6
Bank Mandiri
KCP Tangerang BSD

Volume 8, Nomor 1

 
 
Grha STR lantai 4, Ruang 405 - Jl. Ampera Raya No 11, Cilandak, Jakarta Selatan 12550
© 2012 Nurcholish Madjid Society