Anugerah Lupa

Fachrurozi Majid

 

Dalam obrolan grup WA, Prof. Komaruddin Hidayat, Rektor UIII dan Caknurian, berbagi pikiran soal anugerah lupa di era media sosial yang makin menggemaskan. Kebanyakan kami setuju soal ini.

Disebut sebagai anugerah, sebab lupa–bukan disengaja, tapi lupa seiring berjalannya waktu–memang benar-benar menjadi berkah bagi warganet yang sangat terganggu dengan masifnya kabar bohong, hoax, narasi kebencian yang datang silih berganti.

Di era medsos dan perkembangan digital yang makin masif saat ini, hampir setiap hari rata-rata pikiran kita diasup sekitar 60 ribu kabar, di mana 80 persennya berjenis kabar bohong, materi kebencian, dan narasi negatif lainnya.

Syukurnya, kita ini diberikan anugerah lupa, sehingga seringkali tak ingat pernah diinfokan kabar negatif sebelumnya. Kabar negatif berlalu begitu saja. Dalam banyak hal, secara kolektif, kita juga kerap lupa akan hal-hal penting yang mendera bangsa ini sehingga kerap santai kalau para elit negeri ingkar janji, apalagi sudah ditumpuk berbagai persoalan lain yang tak kunjung beres.

Tapi, anugerah lupa sangat menjadi masalah besar ketika hendak menulis, memaparkan gagasan, atau menarasikan pikiran.

Begitulah aungerah lupa: kadang menjadi berkah menguntungkan, meski bisa pula merugikan.

Post a comment