Bahaya Rasisme

Fachrurozi Majid

 

Rasisme itu sangat berbahaya. Amerika Serikat kini tengah menghadapi isu paling menantang di dunia ini. Indonesia, dengan beragam latar belakang suku dan budaya, paling rentan dengan isu ini. Kita berkali-kali tercabik-cabik lantaran memainkan isu rasisme ini.

Yang paling anyar, kasus teriakan rasis kepada anak-anak Papua di asrama mereka di Surabaya, medio Agustus 2019 silam. Serupa dengan kasus di Minneapolis, pelaku rasisme itu adalah aparat negara, seseorang atau kelompok yang seharusnya memberi rasa aman, bukan menebar ancaman.

Bedanya, menurut kabar yang saya terima lewat pesan WA, aparat kepolisian di Miami, meminta maaf kepada para demonstran saat mengawal aksi demonstrasi. Di Indonesia, mungkin kami terlewat, tak terdengar perkataan maaf dari aparatus keamanaan negara lainnya karena sudah merendahkan anak-anak Papua itu. Yang muncul malah tuduhan eksploitasi isu itu sebagai celah untuk kemerdekaan Papua. Padahal, ada banyak sekali kasus rasisme yang dilakukan aparat keamanaan di Indonesia. Teriakan rasis di Jalan Kalasan Surabaya hanyalah yang terakhir.

Di Miami, demonstran dan aparat kepolisian saling berpelukan seraya menyadari bahwa memang ada yang salah dengan sebagian teman mereka, tapi tak semuanya tentu saja. Bahkan seorang pejabat kepolisian di Minneapolis dengan tegas menyatakan bahwa Derek Chauvin, polisi yang menekan leher George Floyd, dianggap bukan hanya telah gagal sebagai seorang polisi, tetapi juga gagal sebagai manusia.

Rasisme memang masalah banyak bangsa di dunia, termasuk kita di Indonesia. Satu yang terpenting, jika ada oknum berbuat rasis, segeralah meminta maaf, sebelum efeknya merembet kemana-mana. Sebab permintaan maaf akan menaikkan martabat manusia, membuat hati lapang seluas samudra. Sebaliknya, menolak meminta maaf justru akan membuat hati sempit dan menjadikan diri kerdil.

Indonesia punya pengalaman banyak soal rasisme ini. Di negeri ini, sebagian orang tak berani bicara rasisme di AS lantaran enggan borok di negeri sendiri terkuak. Kita pernah begitu rasis terhadap etnis Papua dan Tionghoa, membuat derajat mereka begitu rendah, menjadikan martabat mereka begitu hina. Dengan sadar kita gelontorkan cacian dan umpatan sangat deras. Sembari pelan-pelan menjadikan etnis mereka sebagai komoditas politik yang menjanjikan untuk mengerek popularitas dan menggerakkan massa untuk berkerumun.

Kini, masih tersimpan begitu dalam rasisme itu di hati kita.

Post a comment