Cak Nur dan Keutamaan Membaca

Fachrurozi Majid

 

Bagi keluarga, teman, dan para murid yang kerap berada di dekat Cak Nur, tentu sudah terbiasa melihat Cak Nur membaca, menulis artikel atau mengedit tulisan yang baru saja selesai dicetak. Aktivitas membaca selalu dilakoniknya setiap hari. Dari pagi hingga malam hari. Boleh dibilang, tiada hari tanpa membaca.

Lalu, dari mana hobi membaca Cak Nur ini diperoleh?

Cak Nur lahir dan berkembang dalam lingkup keluarga pesantren tradisional. Ayahnya, Haji Abdul Madjid, adalah seorang yang tradisionalis yang secara pribadi memiliki kedekatan khusus dengan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama. Namun, dalam hal pilihan politik ayahanda Cak Nur ini berafiliasi dengan partai yang disebut beraliran Islam modernis, yakni Partai Masyumi.

Ayah Cak Nur memiliki hobi membaca. Dari kebiasaan itu sang ayah memiliki wawasan dan penguasaan luas dan mendalam di bidang ilmu keislaman. Meskipun hanya berlatar belakang pendidikan Sekolah Rakyat, Madjid sangat fasih dan menguasai bahasa Arab sehingga mampu membaca kita-kitab klasik dari sumber pertama. Lantaran keluasan dan kedalaman ilmunya itu, Madjid kerap dipanggil “Kiai Haji” sebagai penghormatan atas ketinggian ilmu keislaman yang dimilikinya itu. Padahal ia menolak panggilan itu lantaran merasa dirinya kurang layak menerimanya.

Cak Nur beruntung punya ayah yang berkhidmat pada ilmu pengetahuan. Sewaktu kecil, Cak Nur selalu melihat ayahnya membaca setiap malam sewaktu hendak tidur. Dari sinilah hobi Cak Nur dalam membaca mengalir. Perlahan, Cak Nur tumbuh sebagai penyuka buku. Inilah warisan terbesar bagi Cak Nur, yang kemudian diwariskan kembali kepada anak-anaknya kemudian.

Mengenai hobi membaca Cak Nur ini, mengutip Malik dan Ibrahim dalam “Zaman Baru Islam Indonesia”, Furkon Saefudin menulis demikian, “Membaca buku bagi saya merupakan hobi. Setiap mau tidur saya selalu membaca dan ini saya warisi dari ayah saya. Waktu kecil saya sering tidur di samping ayah, sebelum tidur dia selalu membaca sambil merokok. Cara ayah mensosialisasikan kebiasaan membaca pada saya tersebut, terulang pada anak-anak saya” (kecuali tidak sambil merokok)”. Zaman Baru Islam Indonesia (1998).

Bagi Cak Nur, membaca adalah keutamaan. Membaca memiliki ruang sendiri dalam hidup Cak Nur. Sebab, hanya dengan membaca kita memiliki topangan argumentasi yang kuat dan mampu memahami sebuah persoalan dengan baik. Kata Ahmad Wahib, dalam “Pergolakan Pemikiran Islam” buku adalah pacar Nurcholish Madjid yang pertama. Dengan membaca, dia memiliki “peralatan” yang cukup untuk menganalisis berbagai sumber ilmu pengetahuan, yang berguna untuk mengembangkan pemahaman keislamannya.

Bolehlah kita bilang bahwa membaca mampu meninggikan derajat manusia. Membaca berarti juga membebaskan kita.

Selamat Hari Buku Sedunia!

 

Post a comment