Ajakan kepada titik temu (dalam keragaman) adalah episetrum pemikiran Nurcholish Madjid. Dalam keyakinannya, hanya Tuhanlah satu-satunya wujud yang pasti. Semua selain Tuhan bersifat nisbi belaka. Jalan dari kenisbian mendekatkan kepada ”Kebenaran” dan kemaslahatan hidup bersama ditempuh melalui kehanifan, kerendahhatian, kesalingkenalan (ta‘āruf), dan permusyawaratan dalam suatu tatanan sosial yang terbuka, adil dan beradab.

Dari sudut pandang Islam, orang-orang Muslim dituntut untuk lebih mampu menempatkan diri dan menampilkan ajaran agama mereka sebagai pembawa kebaikan untuk semua (rahmat-an li ’l-ʻālamīn). Masalah yang secara khusus dihadapi umat Islam tidak dapat dipandang akan dapat diselesaikan hanya oleh mereka sendiri. Jika kesenjangan sosial dan antarbangsa merupakan sumber pokok masalah zaman sekarang, maka usaha untuk menutup kesenjangan tersebut menuntut kerjasama semua orang.

Dalam semangat pencarian titik temu itu, klaim universal Islam harus didialogkan dengan realitas setempat. Orang-orang Muslim diharapkan mampu mewujudkan diri dalam sikap hidup kebangsaan yang tidak lagi melihat kesenjangan antara keislaman dan keindonesiaan. Bahkan lebih mendasar lagi, Muslim Indonesia menyongsong masa depan bangsa dan negara dalam semangat tiadanya lagi kesenjangan antara Islam dan Pancasila. Sebagai pendukung dan sumber utama nilai-nilai keindonesiaan, Islam semakin diharapkan untuk tampil dengan tawaran-tawaran kultural yang produktif dan konstruktif, khususnya dalam pengisian nilai-nilai keindonesaan dalam kerangka Pancasila.

Seiring dengan dinamika perkembangan masyarakat semesta, tradisi Islam juga harus senantiasa terbuka bagi inovasi kemoderenan. Tradisi yang dinamis menghendaki adanya pembaruan (tajdīd), yang dengan tekun dikembangkan. Meskipun pembaruan itu, untuk keotentikannya, dan demi kekuatannya sendiri harus berlangsung secara mengakar pada kerangka acuan bersama sebagaimana yang dilakukan sejak zaman klasik. Tidaklah banyak artinya mengenang kejayaan masa lampau tanpa kemampuan mengembangkan warisan kultural yang ditinggalkannya dalam status dialog yang dinamis dan lestari, yang menyatakan dirinya dalam gagasan-gagasan kreatif zaman sekarang.

Oleh karena itu, yang amat diperlukan oleh Muslim Indonesia saat ini, ialah suatu persepsi kepada agamanya secara intelektual, disertai sikap kritis terhadap berbagai warisan sejarahnya sendiri. Seterusnya, yang harus dicari ialah bagaimana memelihara segi-segi yang baik dari masa lampau itu dan sekaligus mengambil hal-hal yang lebih maju dan lebih bermanfaat dari masa sekarang.

Pokok-pokok pikiran Nurcholish Madjid itu tidak aus karena kepergiannya, malahan kian aktual dalam menghadapi tantangan globalisasi saat ini. Dengan intensivikasi hubungan-hubungan sosial berskala global, setiap negara bukan saja menghadapi potensi ledakan pluralisme dari dalam, melainkan juga tekanan keragaman dari luar. Tarikan global ke arah demokratisasi dan perlindungan hak-hak asasi memang menguat. Tetapi oposisi dan antagonisme terhadap kecenderungan ini juga terjadi. Di seluruh dunia, ”politik identitas” (identity politics) yang mengukuhkan perbedaan identitas kolektif berbasis etnis, bahasa dan agama mengalami gelombang pasang. Di Indonesia sendiri, pergeseran dari rezim otoritarian menuju demokrasi membawa kabar baik dalam pemulihan kebebasan berekspresi  dan berasosiasi, namun sekaligus mengandung potensi ancaman dari menguatnya politik identitas dengan ekspresi kekerasan  yang menyertainya.

Karena setiap pencarian identitas memerlukan perbedaan dengan yang lain, maka politik identitas senantiasa merupakan politik penciptaan perbedaan. Apa yang harus diwaspadai dari kecenderungan ini bukanlah dialektika yang tak terhindarkan dari identitas/perbedaan, melainkan ancaman dari munculnya keyakinan atavistik yang berkeyakinan bahwa suatu identitas hanya bisa dipertahankan dan diamankan dengan cara menghabisi perbedaan dan keberlainan (otherness).

Dalam situasi seperti itu, semangat pencarian titik temu yang memandang perbedaan sebagai rahmat sangat diperlukan. Di sinilah relevansi pemikiran Nurcholish Madjid terasa sangat kuat. Indikasi ke arah itu terlihat dari makin luasnya apresiasi orang terhadap pemikiran-pemikirannya. Apresiasi yang mencerminkan kesejatian, pencapaian dan dedikasinya yang tinggi dalam mengupayakan pertautan yang damai dan konstruktif antara ideal-ideal keagamaan, kebangsaan dan kemanusiaan universal.

Mengingat keteladanan dan relevansi pemikirannya, sepantasnya ada ikhtiar untuk merawat, menyempurnakan dan mengembangkannya. Agar memiliki kekuatan efektif dalam menggalang partisipasi dan pengaruh dalam masyarakat, diperlukan jaringan sosial (society) atas dasar persamaan komitmen, sikap dan pandangan dasar. Dalam fungsinya sebagai katalis dalam mempertautkan pemikiran dan aksi bersama, lembaga ini mendasarkan aksi dan jaringannya pada beberapa poin berikut ini.

Pertama, harus benar-benar mampu berfungsi sebagai penengah (wasith), yang bersifat terbuka, dialogis dan ”non-sektarian”, agar memiliki kebebasan untuk melihat permasalahan secara benar, tanpa pemihakan a priori.

Kedua, jaringan ini ada dalam format yang fleksibel, sehingga masing-masing anggotanya masih bisa secara bebas menyatakan diri dan mengambil peran. Namun secara keseluruhan harus tetap kuat untuk ikut memberi pengaruh kepada masyarakat.

Ketiga, jaringan ini akan menjadi ajang pengembangan pandangan hidup yang lebih tinggi daripada sekedar seperangkat kaidah-kaidah untuk menopang hidup praktis. Pandangan hidup ini harus merupakan suatu orientasi hidup transendental, yang tidak sekedar memperjuangkan kepentingan-kepentingan jangka pendek.

Keempat, jaringan ini akan dikembangkan menjadi wahana untuk memberikan ilham/inspirasi kepada sebanyak mungkin orang. Khususnya kelompok-kelompok kreatif dalam masyarakat, dengan suatu wawasan yang bisa dijadikan pegangan hidup, titik tolak pengembangan kreativitas perorangan dan kelompok, agar mampu mengambil bagian pembangunan umat manusia.

© Copyright 2018 - NCMS