18 Jul 2014
SIKAP INDEPENDEN NCMS 2014


Memperhatikan suasana politik jelang Pilpres 9 Juli 2014 dan pasca Pilpres sebelum penetapan Presiden dan Wakil Presiden terpilih, dirasakan cukup sensitif secara emosional yang mudah sekali menjadi pemicu yang bisa menyulut perpecahan, konflik, yang dikhawatirkan akan berakibat  lebih  serius  lagi,  yaitu  adanya  saling-protes  yang  diekspresikan  secara  kurang beradab. Ditambah lagi, hampir semua tokoh dan pejabat, baik di pemerintahan maupun swasta, tanpa tedeng-aling-aling meyatakan keberpihakannya kepada pasangan capres- cawapres tertentu. Demikian juga sebagian ulama dan cendekiawan terkemuka,  rektor dan pengurus yayasan pendidikan tertentu, dengan terang-terangan tidak lagi sanggup bersikap netral dan non-partisan. Mereka secara terbuka mendeklarasikan keberpihakannya kepada pasangan calon presiden dan wakil presiden.
Karena itu, kami atas nama Nurcholish Madjid Society (NCMS), yang salah satu perannya

ialah mengkaji secara kreatif dan kritis atas ide dan gagasan-gagasan (almarhum) Prof. Dr. Nurcholish Madjid—yang biasa disapa Cak Nur—merasa perlu menyampaikan sikap politik kami terhadap hiruk-pikuk politik yang di atas dikatakan telah “menyeret” hampir semua komponen dan organ kemasyarakatan itu.


Berikut adalah sikap politik NCMS yang kami sebarkan melalui siaran Pers ini.

Pertama, kami tetap memegang sikap dan prinsip independen seperti yang ditedankan oleh Cak Nur. Independen yang kami maksudkan ialah bahwa NCMS tidak berafiliasi, tidak berpihak—alias non-partisan—kepada salah satu pasangan capres-cawapres yang ada. Juga tidak berafiliasi kepada salah satu kekuatan organisasi sosial-politik apa pun, baik di dalam maupun di luar negeri. Dengan prinsip ini, kami hanya mendedikasikan pada nilai-nilai kebenaran dan cita-cita kemanusiaan universal yang tidak terbatasi dan tidak terkungkung oleh kepentingan-kepentingan sesaat yang partisan, baik dalam lingkup individu maupun kelompok- kelompok tertentu. Prinsip ini penting, seperti sering sekali ditegaskan oleh Cak Nur dalam
 
setiap kesempatan, baik dalam forum formal maupun non-formal dan in-formal, untuk benar- benar menjadi dasar dari seluruh kegiatan intelektual yang diselenggarakan di NCMS. Karena itu, berbagai program, kebijakan dan kerjasama yang dijalin dengan siapa/kelompok mana pun didasarkan pada prinsip independen ini. Dengan prinsip independen ini, NCMS akan lebih mementingkan  sikap-sikap  ilmiah,  non-partisan,  dan  menghindari  kepentingan-kepentingan
sesaat.

Kedua, kami juga tetap mempertahankan prinsip keterbukaan. Prinsip ini kami maksudkan bahwa sebagai sebuah institusi, NCMS didedikasikan sebagai tempat para ulama, cendekiawan, aktivis dan siapa pun yang tertarik untuk bertemu, berinteraksi, berdialog, mendalami berbagai ilmu pengetahuan dan peradaban serta kemoderenan dalam konteks keindonesiaan, dengan penuh kejujuran, ilmiah, transparan dan demokratis. Dengan prinsip terbuka ini, diharapkan bahwa suatu kebenaran dari siapa/mana pun datangnya, selain dari Tuhan  Yang Maha Mutlak,  adalah  bernilai nisbi  dan  relatif.  Karenanya  terbuka  untuk diuji kebenarannya. Prinsip terbuka ini pula yang menjadikan NCMS bisa menerima dan menampung ide dan pendapat dari orang beraliran apa pun, tanpa takut dan khawatir.
Ketiga,  kami  juga  akan  terus  berpegang  dan  memperjuangkan  gerakan  kultural.

Gerakan kultural yang kami maksudkan ialah sebagai tidak mengarah pada kepentingan- kepentingan sesaat dan partisan serta politis dalam arti praktis. Sebaliknya, gerakan kultural yang kami jalankan berupa fasilitasi dan dorongan yang mengarah pada agenda-agenda yang menghasilkan kerja-kerja kreatif, produktif dan konstruktif. Tawaran-tawaran kultural ini diarahkan sebagai suatu alternatif untuk memberikan jalan keluar terhadap berbagai masalah kemanusiaan, baik yang berkaitan dengan kehidupan sosial, ekonomi, politik, budaya, pendidikan bahkan soal-soal keamanan dan pertahanan negara. Untuk lebih jelasnya apa yang dimaksud tawaran kultural, kami urai kriterianya sebagai berikut. Pertama, tidak semata-mata menunjuk pada hal-hal sempit dan partisan saja sehingga, misalnya, berkutat pada politik dan ideologi semata, tapi kultural dimaksud dalam suatu format yang meliputi segala-galanya. Kedua, responsif terhadap tantangan zaman. Hal itu sebenarnya telah dicontohkan oleh berbagai produk kreatif para ulama Muslim klasik, yang karya-karya mereka merupakan bentuk responsif dari tantangan zaman. Ketiga, tawaran kultural merupakan hasil dialog dengan tuntutan ruang dan waktu. Misalnya, tentang Islam di Indonesia, maka ia harus merupakan proses dari dialog dengan tuntutan nilai-nilai yang hidup di Indonesia. Hal ini menjadi suatu strategi yang alami, mengingat sudah cukup jelas adanya kesejajaran—jika tidak kesatuan—antara keislaman dan keindonesiaan. Dengan kata lain, sebenarnya tidak bisa dipisahkan antara Islamic Values dengan Indonesian Values.


Terakhir, tawaran kultural harus bersifat inklusif dan menghindari sikap dan gaya-hidup eksklusif. Hal ini, terutama di interen Umat Islam, harus terjadi semacam relativisme internal. Bahwa umat Islam itu tidak boleh memandang  satu sama lain dalam pola-pola yang absolutistik. Sikap inklusif ini juga harus diekstensi (diperluas) kegolongan agama-agama lain, yaitu adanya suatu ajaran dalam Islam bahwa agama-agama lainitu  berhak  untuk  hidup  dan karenanya  harus  dilindungi.  Sikap  inklusif ini  tidak  berarti pengakuan bahwa ajaran agama-agama lain itu diyakini sama dan benar, tetapi dimaksudkan adanya pengakuan akan hak dari setiap agama itu untuk eksis di dalam suatu hubungan sosial yang toleran, saling menghargai, saling membantu dan saling menghormati.


Ketiga prinsip inilah yang tetap dipegang dan dipertahankan dalam keluarga Cak Nur, yang kemudian  dilembagakan dalam  Nurcholish Majid Society (NCMS). Mengenai lembaga- lembaga lain, baik yang didirikan oleh Cak Nur, seperti Paramadina dan yang lainnya, maupun yang Cak Nur pernah aktif di dalamnya, jika dirasa tidak lagi berpegang pada prinsip-prinsip di atas,   rasanya—LEMBAGA   TERSEBUT—tidak   lagi   berhak   mengaku   sebagai   penerus   dan pemegang amanat ide dan pemikiran Cak Nur.
Terakhir, melalui siaran pers ini, semoga Allah, Tuhan Yang Maha Kasih, memberkati bangsa Indonesia serta meridhainya. Semoga, siapa pun pasangan presiden dan wakil presiden terpilih nanti, mampu memilih menteri-menterinya yang credible dan amānah sehingga mampu juga mewujudkan cita-cita berdirinya negara Indonesia, yaitu mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia. Wallāhu a’lam bi al-shawwāb.


Jakarta, 17 Juli 2014,

YAYASAN NURCHOLISH MADJID SOCIETY



***


Agenda
03 Nov 2017
UNDANGAN TERBUKA

PERESMIAN PERPUSTAKAAN Prof. Dr. Nurcholish Madjid

"Kepustakaan Pembentuk Pemikiran Cak Nur: Relasinya dengan Konteks Sosial"

 baca]


Rilis Pers
SIKAP INDEPENDEN NCMS 2014

Memperhatikan suasana politik jelang Pilpres 9 Juli 2014 dan pasca Pilpres sebelum penetapan Presiden dan Wakil Presiden terpilih, dirasakan cukup sensitif secara emosional yang mudah sekali menjadi pemicu yang bisa menyulut perpecahan, konflik, yang dikhawatirkan akan berakibat  lebih  serius  lagi,  yaitu  adanya ... [baca]


Agar Hukum Tidak Menjadi Fiksi

Donasi

Yayasan Sositas Nurcholish Madjid
Rekening No: 128-00-0561671-6
Bank Mandiri
KCP Tangerang BSD

Volume 8, Nomor 1

 
 
Grha STR lantai 4, Ruang 405 - Jl. Ampera Raya No 11, Cilandak, Jakarta Selatan 12550
© 2012 Nurcholish Madjid Society