Kajian TITIK-TEMU ke-42 “Membumikan Etika Politik”

Dua puluh tahun pascareformasi, perkembangan demokrasi Indonesia boleh dibilang tidak terlalu menggembirakan. Argumen ini muncul dari realitas praktik bermasyarakat dan bernegara kita yang masih jauh dari nilai-nilai demokrasi yang sesungguhnya.

Dalam soal prosedur demokrasi, Indonesia boleh dikatakan sangat berhasil, nampak dari suksesnya penyelenggaraan pemilihan umum di berbagai tingkat pemerintahan dari pusat hingga daerah. Jumlahnya pun begitu banyak. Memang ada konflik usai pemilihan di berbagai daerah, tapi masih bisa ditangani dengan baik dan dampaknya tidak meluas. Pada titik ini, bangsa Indonesia boleh berbangga lantaran menuai sukses.

Sayangnya, penyelenggaraan pemilu itu hanya sekadar rutinitas belaka. Jika ditilik dari sisi substansi demokrasi, fakta yang nampak sungguh mengkhawatirkan. Nilai-nilai yang menjadi panduan bersama sebagai negara-bangsa begitu rentan di permukaan. Keadilan dan kesejahteraan semacam barang langka yang sulit sekali dihadirkan di hadapan. Bukan cuma itu, kedewasaan segenap rakyat Indonesia dalam berdemokrasi pun tak begitu menggembirakan. Ketegangan politik, penyalahgunaan kekuasaan, penggunaan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) untuk memenangi kompetisi politik, begitu kentara. Imbasnya, ikatan bersama menjadi rapuh dan kualitas demokrasi pun menurun. Fakta ini menjelaskan, Indonesia begitu sukses menjalani rutinitas dan melewati prosedur, namun gagal membumikan etika politik yang sejatinya menjadi lentera yang menerangi jagat politik nasional.

Post a comment