Kajian TITIK-TEMU VII “Ruang Publik dan Ancaman Fanatisisme Agama”

Istilah ruang publik kerap dipertentangkan dengan istilah ruang privat. Ruang publik mengasumsikan satu ruang bersama dengan yang lain, yang berbeda dan karenanya bersifat plural. Komunikasi di dalam ruang publik mengandaikan diskursus yang waras (reasonable) dan rasional. Sementara ruang privat lebih dimaknai sebagai ruang pribadi secara personal atau bersama namun dengan yang sesama dan karenanya tidak lagi bersifat plural. Secara lebih konkret dapat diambil contoh, agama, kepercayaan dan keyakinan kerap dikategorikan sebagai doktrin komperehensif yang ada dalam ruang privat. Sedangkan soal-soal politik dianggap sebagai masalah publik yang dapat diakses dan disampaikan dalam ruang publik.

Dalam kehidupan real, pemisahan kategoris seperti ini tidaklah mudah, dan bahkan mendekati ketidakmungkinan. Apakah yang disebut sebagai privat dan publik merupakan dua kategori yang terpisah dan menjadi sebuah kemungkinan dalam realitas kehidupan sosial-politik? Ataukah keduanya hanya ingin menunjukkan bahwa yang satu lebih privat sementara yang lain lebih bersifat publik.

Nurcholish Madjid Society (NCMS) menyelenggarakan Program Kajian TITIK-TEMU VII, mengangkat tema“Ruang Publik dan Ancaman Fanatisisme Agama”. Akan dihadiri oleh Dr. A.M. Hendropriyono, Dr. Fransisco Budi Hardiman dan K.H. Masdar Farid Mas’udi.

Acara bertempat di Omah Btari Sri, Jl. Ampera Raya No. 11, Cilandak Jakarta Selatan, pada hari Kamis, 1 Juli 2010,  Jam 18.30 s.d. 21.30 WIB

 

Post a comment