Masih Adakah Realitas Tunggal?

Fachrurozi Majid

 

Dulu, waktu kecil saya sangat meyakini bahwa agama orang Betawi itu Muslim. Tradisi yang dijalani pun sudah pasti NU. Tak ada kemungkinan lain. Memang ada tetangga kami yang menjalankan tradisi Muhammadiyah, tetapi mereka datang dari kampung seberang, bukan anak keturunan Betawi. Bertambahlah keyakinan saya bahwa orang Betawi itu Muslim dan NU. Begitlah pengetahuan yang saya punya kala masih duduk di bangku SD.

Kesadaran itu saya amini bertahun-tahun sampai menemukan tradisi berbeda saat mondok di Gintung. Misalnya, sehabis salat Jumat, kebanyakan warga kampung Pasir Gintung meneruskan dengan salat Zuhur. Kebiasaan ini tak pernah saya alami sebelumnya.

Almarhum Kiai Rifai, setahu saya, tak pernah mempersoalkan kebiasaan salat para tetangganya itu. Saya manut ke Kiai saja. Belakangan saya baru tahu alasannya. Boleh jadi shalat i’adah atau shalat ma’udah (salat yang diulang setelah salat Jumat) merupakan bentuk kehati-hatian sekaligus cara Kiai Fadhil, sesepuh kampung paling dihormati, menyempurnakan kewajiban salatnya.

Selepas kuliah, saya mulai terlibat mengorganisasi lembaga riset dan penyelenggaraan workshop lintas iman di berbagai daerah. Guna memperkaya khazanah pengetahuan peserta tentang agama lain, kami mengatur kunjungan ke berbagai rumah ibadah untuk berdialog dan berbagi pengalaman mengelola keragaman.

Cara yang kami tempuh ini tentu tak mudah. Ada peserta yang diam-diam menolak. Bahkan saya pernah dituduh menjerumuskan orang untuk masuk Kristen. Padahal banyak peserta yang awalnya bimbang masuk ke gereja, klenteng, atau vihara, justru merasa lega lantaran telah mengenal lebih dalam agama lainnya. Sebuah pengalaman iman yang tak pernah dialami sebelumnya.

Salah satu rumah ibadah yang kami tuju ialah Gereja Servatius Kampung Sawah, Bekasi. Mungkin sekitar 2009 silam. Ini pengalaman unik buat saya pribadi. Seperti saya bilang tadi, sejak kecil saya kadung menganggap orang Betawi itu Muslim, tak mungkin beragama lain.

Tapi di Kampung Sawah, jemaat gereja adalah orang Betawi yang sudah turun-temurun beragama Katolik. Bahkan ke gereja pun mereka menggunakan baju koko dan peci, sebuah tradisi yang sudah melekat. Warga kampung itu pun beragam, tapi tak pernah ada pertengkaran akibat perbedaan agama di sana. Semua rukun. Tak ada klaim merasa paling benar, atau gugatan lantaran sudah menggunakan peci untuk kebaktian.

Sejak itu pengalaman dan pengetahuan saya makin bertambah. Ternyata klaim saya bahwa orang Betawi pasti Muslim terpatahkan. Ada realitas lain yang baru saya tahu kala itu.

Yang juga penting, kami kedatangan peserta bersuku Papua, seorang Muslim. Terbantahkan lagi asumsi saya bahwa Papua sudah pasti Kristen.

Ya, realitas ciptaan Tuhan memang tidak tunggal. Hanya Realitas Pencipta yang tunggal. Selain itu pasti beragam. Saya bersyukur mendapatkan pengalaman-pengalaman beragam itu, sehingga tak kaget, apalagi sampai tergagap-gagap, begitu mengetahui kenyataan ternyata berbeda dari yang saya alami selama ini.

Post a comment