Nilai Kemanusiaan di Balik Marātib al-Dīn Ihsan

Atropal Asparina
SMK Muhammadiyah Tarogong Kidul Garut
Garut, Jawa Barat

 

Marātib al-dīn dalam khazanah pendidikan Islam tingkat dini di Indonesia sering disebut ‘rukun agama’. Ketiga rukun agama: īmān, islām dan iḥsān, secara terminologis dan konsep didapat dari Hadis terkenal Nabi saw. yang diriwayatkan dari sahabat ‘Umar ibn Khaṭṭāb. Istilah marātib al-dīn sendiri, penulis gunakan berdasar judul bab pada kitab al-Arba‘īn al-Nawāwī, yang di-takhrīj oleh Aḥmad al-Bakrī. Terlepas dari semua itu, pertanyaan utama yang akan diulas tulisan ini adalah bagaimana cara menggali dan menyadari nilai kemanusiaan di balik konsep normatif Ihsan?

Marātib al-Dīn Ihsan: Sebuah Pengalaman Ceramah

Mungkin kerena saya adalah lulusan pesantren dan kemudian lanjut kuliah di Universitas Islam Negeri (Yogyakarta), setelah pulang kampung ke daerah Garut, sering diminta mengisi acara pengajian. Terkait marātib al-dīn, setiap majelis yang pertama saya mengisi di sana, selalu menyempatkan diri untuk bermain kuis-kuisan sederhana. Tujuannya, selain membangun kedekatan psikologis dengan para jemaah supaya ikut aktif dalam proses ‘belajar bersama’ di acara pengajian, juga untuk mengetahui tingkat pengetahuan terkait marātib al-dīn. Hasilnya, ketika para jemaah ditanya “Marātib al-dīn atau rukun agama ada berapa?” dijawab dengan kompak tiga perkara. Begitu juga ketika ditanya soal rukun Iman dan Islam, dijawab dengan kompak dan bersemangat. Tetapi, ketika ditanya soal Ihsan, kekompakan dan semangat seketika hilang entah ke mana. Pengetahuan mengenai Ihsan di kalangan masyarakat rupanya tidak sebaik perihal Islam apalagi Iman.

Nilai Kemanusiaan di Balik Konsep Ihsan

Jika merujuk hadis, makna Ihsan yang ditemukan terkesan hanya berdimensi ibadah kepada Tuhan yakni, “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika tidak melihatnya (karena memang tidak mungkin) maka yakinlah Allah melihatmu.” Meski demikian, menurut Nurcholis Madjid ketika membahas trilogi ajaran Tuhan, justru karena Ihsan adalah penghayatan pekat pada kehadiran Tuhan, pasti berimplikasi erat dengan pendidikan akhlak mulia. Sedangkan akhlak mulia merupakan dasar kuat bagi nilai-nilai kemanusiaan secara umum. Jadi bagi Madjid rumusnya sederhana, dimensi vertikal kehidupan manusia harus selalu melahirkan dimensi pandangan hidup horizontal.

Pandangan pemikir besar yang sering disapa Cak Nur itu, akan semakin dikuatkan ketika menyelami Ihsan perspektif al-Qur’an. Upaya mengetahui makna Ihsan dalam al-Qur’an tidak bisa hanya mengandalkan satu ayat atau satu surah saja. Sebab kata yang terangkai dari h-s-n terulang sekitar 108 kali dan semuanya bermakna dasar ‘baik’ dan ‘membuat baik sesuatu’. Cakupan makna Ihsan dalam al-Qur’an diketahui dari konteks penggunaannya dalam sebuah ayat.

Sebagai gambaran saya kumpulkan konteks kata iḥsān yang merupakan maṣdar dari kata aḥsana yang terulang sebanyak 11 kali. Ihsan dalam konteks pada kedua orang tua (6:151) (17:23) (46:15), kepada orang lain yang membutuhkan pertolongan (2:83) (4:36), konteks pembayaran diat (2:178), perceraian (2:229), resolusi konflik (4:62), mengikuti pendahulu yang benar (9:100), berlaku adil (16:90), dan balasan kebaikan (55:60). Dari sana dapat terlihat, konteks penggunaan Ihsan tidak saja beragam, tapi yang lebih penting adalah menggambarkan dimensi cakupan makna yang sangat luas namun juga detail.

Menurut Ibnu Taimiyah dalam kitabnya al-Īmān, Ihsan merupakan puncak spiritual manusia yang dicerminkan dengan perbuatan baik yang mencakup Iman dan Islam. Jika Ihsan adalah ‘membuat baik sesuatu’ maka pertanyaanya apa yang harus dijadikan baik itu? Dalam konteks inilah Ibnu Taimiyah mengatakan Ihsan telah mencakup Islam dan Iman. Artinya, keislaman dan keimanan seseoranglah yang harus senantiasa dibuat se-ihsan mungkin. Seolah memberikan contoh, Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah, menekankan bahwa Ihsan adalah tingkat kedewasaan tertentu seperti yang menjadikan seseorang akan memberi melebihi yang diwajibkan dan mengambil lebih sedikit dari bagiannya.

Setelah mengeksplorasi Ihsan perspektif Hadis, al-Qur’an, ulama dan pemikir, kesan kuat saya adalah Ihsan tidak hanya sekadar kualitas atau dorongan akan suatu perbuatan, tapi lebih merupakan ‘cara pandang’ tersendiri. Tanpa cara pandang Ihsan ketika mengkaji Iman atau Islam, sangat mungkin dimensi horizontal-kemanusiaan luput dalam kesadaran. Menurut saya, dalam tingkat Ihsan sebagai cara pandang itulah, penegakan nilai-nilai kemanusiaan yang selalu jadi tanggung jawab besar kaum Muslim, dapat disadari untuk kemudian diaktualisasi.

Post a comment