Peristiwa Pembakaran Rumah Umat Buddha di Mareje, Lombok Barat

Pernyataan Sikap
Nurcholish Madjid Society (NCMS)

Terhadap Peristiwa Pembakaran Rumah Umat Buddha di Mareje, Lombok Barat

Persekusi, diskriminasi, dan tindakan intoleransi menjadi ancaman nyata dalam kehidupan berbangsa di Indonesia saat ini. Pekan lalu, Minggu (1/5/2022), bersamaan dengan Hari Raya Idul Fitri, aksi menggetirkan itu kembali terjadi. Sejumlah warga melakukan pembakaran terhadap rumah milik Amak Rahim alias Amak Runa, seorang umat Buddha di Dusun Ganjar Desa Mareje, Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pembakaran rumah warga Mareja, Lombok Barat, tidak hanya harus ditindak tegas berdasarkan hukum yang berlaku, melainkan juga pemerintah melalui kementerian terkait mesti melakukan proses penyadaran tentang pentingnya hidup bersama dengan berbagai perbedaan agama, keyakinan, aliran, etnis dan suku yang ada di Tanah Air.

Menurut kabar yang kami terima, kejadian tersebut sebenarnya merupakan ekses dari kontestasi pemilihan kepala daerah yang telah usai. Kontestasi itu masih terus berlangsung, dan bahkan para pihak yang kalah kerap merisak (mem-bully) para pendukung calon yang menang yang kebetulan adalah pengikut agama Buddha.

Teranyar, pada saat pawai malam takbiran, beberapa pemuda Muslim dari Dusun Bangket Lauk meledakkan petasan di depan kandang sapi milik Amak Rahim alias Amak Runa, seorang tokoh umat Buddha di desa itu. Karena membahayakan, pelaku lantas ditegur, tetapi tidak senang lalu meresponsnya dengan memukul.

Selang beberapa saat, terjadi provokasi. Massa yang disulut oleh kabar palsu bahwa “umat Buddha telah menghina umat Muslim,” lantas membakar rumah milik Amak Rahim alias Amak Runa. Isu SARA dihembuskan untuk membakar emosi massa.

Respons atas kasus ini sangat membahayakan harmoni dan persaudaraan antarumat beragama di Desa Mareje, Lombok Barat, dan Indonesia secara keseluruhan. Meskipun sudah dimediasi oleh aparat kepolisian—dengan menghadirkan para perwakilan dari Muslim dan Buddha—kasus tersebut masih menyisakan keganjilan, sebab sebagai umat minoritas, umat Buddha tidak punya pilihan selain berdamai.

Nurcholish Madjid Society (NCMS) memandang tindakan persekusi berupa pembakaran rumah milik Amak Rahim alias Amak Runa harus ditindak tegas oleh aparat kepolisian, bukan sekadar diselesaikan melalui jalan damai. Pembakaran rumah milik umat Buddha yang notabene minoritas di wilayah itu tidak dapat dibiarkan, sebab dikhawatirkan akan melahirkan kejadian serupa di kemudian hari.

Atas kejadian ini, Nurcholish Madjid Society menyatakan sikap sebagai berikut:
1. Meminta aparat kepolisian untuk menindak tegas para pelaku pemukulan dan pembakaran rumah milik Amak Rahim alias Amak Runa karena sudah mengakibatkan kerugian fisik dan psikis.
2. Meminta aparat kepolisian untuk menangkap penyebar hoaks dan provokator yang menyebabkan pembakaran rumah itu terjadi.
3. Mengajak para tokoh umat Muslim dan umat Buddha untuk mengedukasi setiap umatnya untuk mengedepankan sikap tenggang rasa di Desa Mareje, Lombok Barat.
4. Menghimbau setiap umat beragama dan warga negara Indonesia untuk mengedepankan sikap saling menghargai di antara sesama untuk menciptakan hamorni di masyarakat.

Demikian pernyataan sikap ini kami sampaikan, dengan harapan tindakan pemukulan, aksi pembakaran, dan diskriminasi itu mendapat hukuman tegas dari aparat kepolisian.

 

Jakarta, 6 Mei 2022
Nurcholish Madjid Society

 

Muhamad Wahyuni Nafis
Ketua Dewan Pengurus

Post a comment