Jalan Penderitaan Pemimpin

SUKIDI, Pemikir Kebinekaan

Setelah 76 tahun terbebas dari penjajahan, kita justru menyaksikan pemimpin dengan mental penjajah. Seperti penjajah, banyak pemimpin mengeksploitasi kekayaan negara demi keserakahan pribadi. Kemewahan pun menjadi gaya hidup pemimpin. Ironisnya, pemimpin berbangga diri dengan pameran kemewahan di tengah penderitaan rakyat miskin. Apa yang salah kaprah dengan pemimpin kita sekarang ini?

Banyak pemimpin hanya berpikir tentang apa yang dapat diambil dari, ketimbang apa yang mestinya diabdikan untuk, negara. Tipe pemimpin ini telah mengkhianati spirit pendiri bangsa. Republik ini didirikan oleh mereka yang sepenuhnya menjiwai spirit pengabdian demi kemajuan negara dan rakyat Indonesia. Soekarno, Mohammad Hatta, dan Agus Salim adalah di antara para pendiri bangsa yang memberikan teladan pengabdian hidup untuk Indonesia.

Atas nama pengabdian kepada negara dan rakyatnya, Soekarno memilih hidup sederhana dan berkata: “Aku satu-satunya presiden di dunia yang tidak punya rumah sendiri. Baru-baru ini rakyatku menggalang dana untuk membangun sebuah gedung buatku, tapi di hari berikutnya aku melarangnya. Ini bertentangan dengan pendirianku. Aku tidak ingin mengambil sesuatu dari rakyatku. Aku justru ingin memberi mereka” (Asvi W. Adam, 2010:41). Sebagai pendiri Bangsa, Soekarno memberikan teladan terbaik dalam etika bernegara bahwa kepemimpinan adalah jalan panggilan dan pengabdian hidup, menangis dan tertawa bersama rakyat, dan tidak terpikirkan untuk mengambil sedikit pun dari rakyatnya, tetapi justru menjiwai spirit pengabdian untuk rakyatnya.

Seperti Soekarno, Mohammad Hatta telah menjadi legenda dalam memilih jalan hidup yang sangat sederhana. Selepas dari pengunduran dirinya menjadi Wakil Presiden RI pada tahun 1956, Hatta tak punya uang pensiunan yang cukup hanya untuk membayar tagihan listrik dan air dan impiannya untuk memiliki sepatu dengan merek Bally pun tidak terwujud hingga akhir hayatnya.

Meutia Hatta, putri pertama Hatta, pernah membacakan wasiat yang ditulis oleh Hatta pada tahun 1975: “Apabila saya meninggal dunia, saya ingin dikuburkan di Jakarta tempat diproklamasikan Indonesia merdeka. Saya tidak ingin dikubur di makam pahlawan (Kalibata). Saya ingin dikubur di tempat kuburan rakyat biasa, yang nasibnya saya perjuangkan seumur hidup saya.”

Pesan wasiat ini tentunya menggetarkan hati nurani kita, karena kita disadarkan tentang spirit pengabdian dan keteladanan hidup Hatta yang didedikasikan sepenuhnya untuk negara dan rakyatnya. Hatta menjiwai sepenuh hati tentang arti kehidupan rakyat biasa, dengan penuh sadar dalam memilih jalan hidup yang sangat sederhana sebagaimana yang dialami oleh rakyat biasa.

Baik Soekarno maupun Hatta telah memberikan teladan terbaik tentang pentingnya spirit pengabdian untuk negara dan rakyatnya. Konsekuensi logis dari spirit pengabdian itu adalah ketulusan hidupnya untuk menempuh jalan penderitaan bersama rakyatnya. Karena itu, para pendiri bangsa rela untuk mendarmabaktikan pikiran dan hatinya untuk memilih hidup sederhana dan bahkan ikut serta menderita bersama rakyatnya demi masa depan Indonesia yang sejahtera, makmur, dan demokratis.

Last but not least, tidak ada figur pendiri bangsa yang lebih sederhana dari Agus Salim. Ia hidup dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya, pernah hidup tanpa listrik, dan tidak pernah punya rumah sampai akhir hayatnya. Pada tahun 1925, Mohammad Roem pernah diajak oleh Kasman dan Soeparno, keduanya pelajar Stovia, ke rumah Agus Salim di Gang Tanah Tinggi, Jakarta.

Dalam pertemuan itu, Kasman berkata, “Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin adalah jalan yang menderita.” Menurut Mohammad Roem, “ucapan Kasman tidak mempunyai arti sastra kalau dikatakan dalam bahasa Belanda. Dalam bahasa Belanda, ada dua kata yang berbunyi sama, tapi ditulis berbeda: leiden (memimpin) dan lijden (menderita)” (Mohammad Roem, Prisma, No. 8, 1977). Testimoni Mohammad Roem ini merefleksikan arti penting makna kepemimpinan sebagai jalan penderitaan yang dijalani oleh Agus Salim.

Akhirnya, para pendiri bangsa ini telah memberikan teladan terbaik kepada kita semua bahwa menjadi pemimpin harus siap hidup sederhana dan bahkan menderita demi kesejahteraan rakyatnya. Di balik kesederhanaan dan penderitaan hidup itulah, para pendiri bangsa justru melahirkan ide-ide besar tentang Indonesia sebagai negara bangsa modern (modern nation state).

Ironisnya sekarang ini, para pemimpin kita justru terjatuh pada politik yang tak bermartabat, ketimbang memikirkan Republik ini dengan ide-ide besar tentang impian Indonesia sebagai negara maju di masa depan, sehingga kita mampu keluar dari kutukan peraih nobel ekonomi, Karl Gunnar Myrdal (1968), yang mengategorikan Indonesia sebagai “negara yang lunak” (soft state).

Tulisan ini telah dipublikasikan di Kompas, 30 September 2021.
https://www.kompas.id/baca/opini/2021/09/30/jalan-penderitaan-pemimpin/

Post a comment