CENDEKIAWAN & RELIGIUSITAS MASYARAKAT; Kolom-kolom di Tabloid Tekad

Ibarat buku, cendekiawan muslim adalah wadah bagi wacana berbagai pemikiran, untuk mengakrabi buah perdaban dari zaman-zaman yang berbeda. Buah pikirnya memperlihatkan dengan jelas upayanya menunjukkan benang merah interaksi pelbagai buah peradaban itu dengan Islam memberi sumbangan yang amat bermakna. Ia begitu fasih mencernakan rantai historis kemanusiaan itu dengan mengutip sumber-sumber Islam, Kristen, Yahudi, Yunani, serta Timur dan Barat.

Begitupun, alih-alih terjerembab ke dalam romantisme pemikiran—sesuatu yang kerap muncul lantaran seseorang ingin tampak beda, dengan bersifat inklusif Nurcholish justru menghadirkan  dirinya sebagai cendekiawan yang human, toleran, dan coba “memahami” gagasan orang lain yang berbeda dengan dirinya. Sekaligus, ia bermaksud memperlihatkan betapa sesungguhnya Islam itu kaya apabila dimaknai tidak secara sempit.

Pemaknaan itu, seperti “terbaca” dalam tulisan-tulisan pendeknya yang dihimpun dalam buku ini, bukanlah monopoli suatu kelompok tertentu.

Lantaran kehidupan seseorang itu akan senantiasa bersifat pribadi, betapapun ia bermasyarakat, maka pemahaman akan makna hidup tidaklah dapat dipaksakan. Dari sudut pandang ini, nurcholish ingin mengatakan bahwa pemahaman, pengalaman, penghayatan, dan prilaku keagamaan seseorang bersifat unik dank arena itu beragam dan nisbi.

Melalui kupasannya tentang etika politik, dari titik ini sebenarnya kolom Fatsoen-nya di Tabloid Tekad beranjak, Nurcholish membukakan mata bahwa Islam bukan sekedar tidak antidemokrasi, namun menyimpan pula mutiara-mutiara yang mampu mencerahkan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Nurcholish mengungkapkan makna-makna yang terbingkai oleh bentuk-bentuk formal religiusitas. Ia, agaknya, menyadari betul tugasnya menembus formalitas itu untuk menangkap makna dan tujuan hakiki agama.

 

 

Post a comment