Membumikan Pikiran Pembaharu Islam di Tengah Menguatnya Eksklusivisme Keagamaan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Situasi Indonesia mutakhir ini bisa dikatakan mengkhawatirkan. Ini ditandai dengan begitu kerapnya ujaran kebencian, caci-maki, sikap saling sindir muncul kepada kepada orang yang berbeda pilihan politik dan tempat pengajian. Semua hal tersebut membuat sebagian kalangan resah sembari bertanya: apa yang sesungguhnya tengah menerpa bangsa ini?

Kondisi tersebut disusul dengan menguatnya keberagamaan yang semakin eksklusif dari hari ke hari. Sebagian orang kini dengan begitu mudah menyebut seseorang yang berbeda latar keyakinan atau mazhab sebagai kafir dan telah berseberangan dengan Islam. Dahulu, kita menyaksikan tuduhan seperti ini hanya menyasar pemikir yang dianggap ”sangat liberal”, tetapi kini, tuduhan ”liberal” disertai sematan ”anti-Islam”, dengan mudah meluncur dari siapa saja kepada siapa saja.

Menilik kegawatan situasi keagamaan Indonesia kita hari ini, sudah semestinya kita menggelorakan kembali pikiran-pikiran para Guru Bangsa yang telah mengajari warga bangsa ini bagaimana seharusnya beragama dengan benar. Mereka juga telah mengedukasi kita soal arti penting kebersamaan, kemanusiaan, menghargai orang lain, dan menghormati perbedaan.

Kita bisa belajar, misalnya, kepada Gus Dur dan Cak Nur, atau juga dari legenda hidup seperti Buya Syafii Maarif, Quraish Shihab, Gus Mus, dan tokoh penting lainnya. Mereka adalah tokoh-tokoh pembaharuan Islam Indonesia di era kontemporer yang memiliki jejak ideologis dan kultural yang begitu kentara.

Dari mereka, pemikiran keislaman begitu menonjol meski berasal dari akar tradisi keislaman yang berbeda. Gus Dur dan Gus Mus boleh dibilang mewakili kalangan tradisionalis dengan penguasaan keilmuan keislaman yang sangat kuat karena itu boleh dibilang mencerminkan pemikiran-pemikiran Hadratussyaikh Hasyim Asya’ari di saat ini. Sedangkan Cak Nur adalah perpaduan Timur dan Barat dengan akar tradisi pesantren yang sangat kuat dan penguasaan keilmuan Barat yang mumpuni. Ini  tecermin di beberapa karyanya yang mensintesiskan pikiran-pikiran Timur dan Barat. Dan, Buya Syafii pun memiliki penguasaan yang baik di bidang keilmuan Islam karena cukup lama belajar di pesantren Muhammadiyah lalu melanjutkan studi ke Chicago. Serta Qurasih Shihab yang masyhur sebagai mufasir Indonesia kontemporer, seorang par excelence lulusan Al-Azhar, Mesir, yang tak pernah lelah mencerahkan umat Islam melalui forum-forum ilmiah dan karya-karya tafsir yang mudah dicerna.

Kita bisa belajar kepada tokoh-tokoh itu tentang bagaimana membangun sikap toleransi atas kondisi kebinekaan dan pluralitas, karena kini pikiran mengenai kebinekaan mulai mendapat tantangan cukup serius dari kalangan lain. Terkadang tokoh-tokoh harus mengambil risiko dikritik hingga dicaci-maki saat menyampaikan gagasannya dan mempertahankan prinsip-prinsip keagamaan. Di tengah situasi tersebut, banyak intelektual memilih diam dan menghindar ketimbang terlibat dalam perdebatan publik yang semakin sengit dan tidak sehat. Tetapi, para tokoh-tokoh ini menempuh jalan keras guna mempertahankan dan menyuarakan gagasan-gagasan kemanusiaan.

Rasanya tidaklah berlebihan jika tokoh-tokoh ini pantas menyandang predikat Guru Bangsa. Ini bukan pengkultusan tokoh, melainkan model keteladanan yang harus ditiru masyarakat Indonesia seperti keberanian menyampaikan pendapat, keterbukaan terhadap pendapat yang berbeda, kesederhanaan di dalam hidup, keteguhan memegang prinsip, dan memiliki integritas moral yang ditunjukkan melalui sikap dan tindakan yang konsisten yang tidak goyah oleh tekanan apa pun.

Pikiran-pikiran Guru Bangsa ini perlu terus dibumikan atau diajarkan kepada anak-anak bangsa, generasi penerus, agar pemahaman keagamaan mereka selaras dengan sikap keberagamaan yang hanīf dan lurus. Apalagi di tengah polarisasi ektrem yang menempatkan kita pada salah satu kutub: mendukung atau menolak. Pikiran para Guru Bangsa ini masih sangat relevan guna membentengi kita agar tidak terjebak ke dalam situasi ekstrem tersebut.

Paparan di atas kiranya menjadi sebuah latar belakang terselenggaranya Kajian Titik-Temu kali ini dengan menghadirkan Yudi Latif, Ph.D, anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), dan Dr. Ahmad Suaedy, Direktur Abdurrahman Wahid Center. Kajian akan dipandu Nanang Tahqiq, M.A., Dosen UIN Syarif Hiduyatullah Jakarta.

 

 

Post a comment