Relaunching dan Diskusi Buku

Buku antologi pemikiran Muslim hasil terjemahan dan suntingan Cak Nur (Prof. Dr. Nurcholish Madjid), yang terbit pertama kali tahun 1984, merupakan kumpulan pemikiran mendasar dari para filsuf dan pemikir Muslim terdahulu yang layak dijadikan sebagai basis epistemologi Islam. Tentu artikel-artikel yang diterjemahkan dan dimasukkan ke dalam buku ini adalah artikel pilihan dari setiap tokoh terkemuka pada masanya. Meski ide dan pemikiran-pemikiran dalam buku ini tergolong klasik, namun memberikan dasar penting yang dibutuhkan bagi pengembangan Islam dan kemoderenan di masa mendatang. Karena itu, Nurcholish Madjid Society (NCMS) merasa perlu untuk menerbitkan kembali buku Khazanah Intelektual Islam ini.

Yang menonjol dari berbagai pemikiran para filsuf dan pemikir Muslim yang tulisannya tertuang dalam buku ini, adalah bahwa setiap pemikiran, ide, dan gagasan yang keluar dari proses kreatif intelektual mereka merupakan jawaban kontekstual atas situasi budaya pada zamannya. Jelas terbaca dan terasa, bahwa para intelektual Muslim terdahulu ini mendedikasikan hati dan jiwanya untuk menjaga dan mempertahankan iman dan martabat keislaman umat—meski tidak kurang gara-gara hal tersebut mereka dituduh sebagai pemikir yang telah menyimpang dari pakem sah keislaman. Dengan ketulusan dan tanggung jawab yang tinggi sebagai ulama, mereka berijtihad untuk menjaga serangan pemikiran demi kemaslahatan, baik dalam ranah teologis maupun sosial dan budaya. Karena itu, pada zamannya mereka adalah para pahlawan pemikiran.

Lepas dari apa yang tertangkap secara konten dan konteks dalam antologi pemikiran para filsuf dan pemikir Muslim di buku ini, kita juga bisa menganalisis hal lain dari sisi dasar keilmuan yang mereka kembangkan. Apa yang saya maksudkan dasar keilmuan yang mereka gunakan adalah dari sudut pandang kajian epistemologi. Jelas, epistemologi yang mereka gunakan adalah epistemologi yang didasarkan pada adanya keyakinan sebagai postulate dari pemikirannya. Bahwa semua filsuf dan pemikir Muslim tersebut, tidak ada yang berada dalam keraguan iman kepada agama yang dianutnya. Justru pemikiran-pemikiran mereka merupakan ekspresi kesalehan dan keimanan mereka. Namun, memang terlihat bahwa corak epistemologis berdasarkan keyakinan yang mereka miliki terbaca ke dalam dua model: rasional dan empiris. Dua model epistemologi ini nampaknya yang memang Cak Nur ingin tampilkan, sekaligus sepertinya mengupayakan proses konvergensi, kalau tidak dikatakan sinergi.

Dalam antologi ini, dua model epistemologi ini terasa kontras—lagi-lagi demi menjawab situasi yang dibutuhkan juga nampaknya. Selain terlihat secara nyata pada pemikiran Ibn Taymiyah dan Ibn Khaldun epsitemologi empirisme tersebut, saya juga melihat pada pemikiran Abu al-Hasan al-Asy’ari dan lainnya. Tentu mungkin akan ada orang yang tidak setuju pada pernyataan saya ini. Namun, lahirnya ide sifat 20 bagi Allah dari al-Asy’ari, misalnya, bagi saya merupakan jawaban empiris secara rasional yang dinilainya dapat menyelamatkan iman umat Islam saat itu yang tengah diserang cara berpikir filsafat Yunani melalui filsafat yang tumbuh subur di kalangan pemikir Muslim.

Mukaddimah yang ditulis Cak Nur patut dibaca sebelum membuka lembaran-lembaran berikut dalam buku ini. Mukaddimah yang panjang yang tidak kurang dari 80 halaman ini, memberikan pendasaran kontekstual dan kesinambungan pemikiran yang tertuang dalam buku ini. Cak Nur dengan otoritasnya sebagai cendekiawan dan pemikir Muslim yang mumpuni, dengan piawai membentangkan konten dan konteks dari setiap pemikiran yang ada di buku ini. Tidak sampai di sini, Cak Nur juga menggali kesaling-hubungan dan kesaling-terkaitan antara pemikiran yang satu dengan pemikiran lainnya, meskipun dari sisi waktu dan tempat terkadang berjauhan. Cak Nur melalui buku ini, terlihat tengah melakukan suatu upaya mengumpulkan berbagai pemikiran berserakan, lalu dibentuk menjadi suatu bangunan indah peradaban pemikiran Islam. Karena itu, di tangan Cak Nur, epistemologi rasional dan empiris tidaklah saling menafikan, apalagi saling menyalahkan. Sebab, semua itu benar dan dibutuhkan karena situasi yang melatar-belakanginya.

Post a comment