Kajian TITIK-TEMU ke-41 “Ancaman Fanatisme dan Kalim Kebenaran terhadap Kehidupan Beragama”

Diskursus mengenai fanatisme dan klaim kebenaran tak pernah sepi digelar. Perbincangan mengenai kedua isu ini mulai ramai berlangsung terutama sejak era Reformasi 1998

bergulir. Runtuhnya rezim otoriter Orde Baru yang begitu mengekang kebebasan sipil dan politik warga negara, boleh dibilang menjadi pemicu bagi terbukanya kran kebebasan berpendapat dan beragam kebebasan berekspresi lainnya di ruang publik lewat berbagai forum dan media lainnya. Apa pun dibicarakan di ruang publik, termasuk beragam ekspresi keagamaan.

Atas nama kebebasan berekspresi, banyak kelompok keagamaan memanfaatkan anugerah kebebasan ini secara bijaksana dengan ramai-ramai menampilkan agama yang penuh rahmat bagi semesta alam. Sebagian lainnya justru mengambil kesempatan untuk melakukan propaganda keagamaan yang negatif dan tanpa disadari telah menampilkan wajah agama yang intoleran, penuh kebencian, kebengisan dan di saat yang sama mengancam kelompok yang lain.

Mari tengok beragam tindakan intimidasi dan kekerasan yang mengatasnamakan agama di berbagai wilayah di Indonesia di masa silam, seperti pengusiran Jemaat Ahmadiyah, kaum Syiah, dan larangan menjalankan ibadah bagi Jemaat Kristen di Bekasi, sebagai contohnya. Boleh dibilang akar segalanya adalah sikap fanatis dan merasa benar pada keyakinan, di saat bersamaan menganggap orang lain sebagai salah dan patut diperangi. Paling mengerikan lagi, muncul anggapan bahwa jika seseorang berada dalam pertikaian keyakinan dengan kelompok lain, tindakan ekstremisnya “dibenarkan” demi melawan kebatilan.

Post a comment