Islam dan Kemanusiaan

Siti Nurkholilah
Pondok Pesantren Tahfiz Al-Quran (PPTQ) Al-Munawwaroh
Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi

Menyoal tentang kemanusiaan, Islam memiliki peran fundamental dalam memupuk kesejahteraan dan memperluas kasih sayang antar sesama makhluk. Namun jika kita menilik betapa menyusutnya bobot kesadaran akan kepekaan sosial menunjukan betapa menurunnya standar kesalehan sosial antar manusia, hilangnya rasa saling menghormati antar sesama dan hidup hedonis dan terkadang eksklusif menjadi sebuah kenyamanan.

Peran agama Islam menjadi sebuah jembatan yang akan menyalurkan ajaran serta pijakan kepercayaannya sebagai sebuah tatanan kehidupan yang selalu akan dijalaninya dengan penuh kesadaran, dengan demikian misi Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘ālamīn akan membumi dan menjadi pijakan kehidupan manusia yang berpegang kepada agama sebagai dasar pendidikan dan pijakannya dalam bersikap.

Memanusiakan manusia merupakan salah satu slogan yang sangatlah brilliant, karena sang Maestro pendidikan Prof Munif Khatib mencetuskan slogan tersebut berbekal dengan pengalaman dan kecintaan beliau terhadap pendidikan, karena pendidikan merupakan salah satu pintu memupuk kesadaran dan menanamkan kecintaan antar manusia. Salah satu ajaran Islam yang mengutip jelas untuk anjuran memanusiakan manusia adalah uswah dan tauladan insan yang mulia Nabi Muhammad SAW, Baginda Nabi adalah pemersatu segala bangsa dengan indah perangai dan manis tutur katanya yang bertuah dan segala perbuatannya berbuah hikmah.

Kemanusiaan merupakan sebuah bendera tak boleh lusuh, dan pisau tak boleh tumpul. Setiap manusia memiliki hati nurani yang jernih akan menggunakan akal, untuk selalu menjunjung tinggi kemanusiaan, dimulai dari circle terkecil hingga level internasional. Dimulai dengan menghargai sekeliling manusia yang berinteraksi dengannya secara rutin dengan memberikan hak yang dimilikinya serta menanamkan kecintaan kepada kewajibannya sebagai bentuk kecintaan dan tanggung jawab antar sesama manusia dan media untuk memberikan best service untuk sesama. Dengan menghargai kerja keras orang lain, akan memacu sikap solidaritas dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Kemanusiaan merupakan sebuah pisau yang tajam hanya bisa dirasakan manfaatnya oleh orang-orang memiliki keinginan yang kuat untuk menciptakan sebuah mahakarya keharmonisan antar sesama manusia, memupuk ukhuwah dan menopang peradaban majemuk dan berkelas.

Genderang kesejahteraan manusia merupakan sebuah ajaran, memang di pokuskan oleh Islam dan para penganutnya, jika mengacu kepada panduan dari Al Qur’an dan Sunnah. Betapa ayat-ayat sangatlah gamblang menjelaskan bahwa Islam sangat memberikan support dan ruang yang sangat luas untuk menjadi pribadi yang memanusiakan manusia dengan memandang rata seluruh makhluk dalam kesetaraan dan keimanan yang sama, menjadi pembeda hanyalah amal sholeh. Salah satu diantara beberapa ayat berkaitan tentang kemanusiaan adalah firman Allah SWT, termaktub dalam Q.S. Al-Hujurat (49) ayat ke sepuluh berbunyi:
إنما المؤمنون إخو ة فأصلحوا بين أخويكم واتقوا الله لعلكم ترحمون (الحجرات : 10)
Artinya : “sesungguhnya seluruh orang mukmin adalah bersaudara, maka demikianlah antar kedua saudaramu agar kalian mendapat rahmat” (Q.S. Al-Furqan : 10).

Menjaga ukhuwah dan silarurahim merupakan sebuah interpretasi dari pengamalan terhadap tanggung jawab hablun min an-nās sebagai ciri seorang mukmin sejati, menjaga marwah agamanya dengan menjadikan dirinya sebagai agent of representative dari keindahan akhlak mulia yang bersemayam pada jiwa, yang berpegang teguh kepada keyakinan agamanya.
Tatanan ajaran agama Islam dalam memanusiakan manusia sangatlah tergambar dalam pesan-pesan yang kerap disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, beliau menanamkan kedamaian, memberikan contoh kongkrit dan menjadi pioneer segala kebaikan atas nama kemanusiaan.

Salah satu hadis yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan adalah sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Salam:
عن عبد الله بن سلام رضي الله عنه أنه سمع النبي أول مقدمه إلى المدينة مهاجرا يقول: أيها الناس افشوا السلام وأطعموا الطعام وصلوا الأرحام وصلوا بالليل والناس نيام تدخلوا الجنة بسلام. (رواه الترمذي).

Penjabaran dari hadis tersebut adalah pesan Nabi Muhammad SAW diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi melalui lisan seorang sahabat Abdullah bin Salam tatkala fase awal memasuki kota Madinah saat hijrah adalah sebuah pesan kemanusiaan, menyeluruh dan sangat relevan sepanjang masa, pesan yang disampaikan untuk seluruh manusia tersebut berbunyi “ wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam (keselamatan/kesejahteraan), dan berikanlah (berbagilah) makanan kepada mereka yang membutuhkan, dan jalinlah silaturahim/relasi, baik antar sesama kalian, serta dirikanlah salat (malam) saat manusia lain tengah tertidur lelap, dengan mengamalkan kebaikan-kebaikan tersebut kalian akan masuk ke dalam surga dengan selamat”.

Empat komponen penting pondasi pilar kemanusiaan harus menjadi landasan kehidupan universal adalah pesan Nabi Muhammad tersebut diatas, karena empat pondasi pilar kemanusiaan tersebut menyiratkan pesan moral untuk mengusung pesan kemanusiaan dan menjunjung tinggi nilainya dimanapun berada.

Ajakan atau khitab dalam hadis tersebut pun ditujukan bukan hanya kepada kaum muslimin atau orang yang beriman kepada Allah SWT saja, melainkan sebagai ajakan global untuk seluruh manusia agar berpartisipasi membangun pondasi kemanusiaan dengan empat komponen tersebut, dengan penjabaran sebagai berikut:

Pertama, tebarkanlah salam/ keselamatan atau kesejahteraan diantara manusia, dengan memberikan rasa damai dari lingkunan terdekat, memberikan kehangatan ukhuwah insaniyah sebagai sebuah implementasi dari keimanan dan refleksi dari akhlak mulia seorang muslim.

Kedua, memberi makan bagi orang yang membutuhkan atau kelaparan, merupakan sebuah bentuk ibadah yang bernilai pahala luhur, dari sesuap nasi ada kehidupan yang berlanjut, ada harapan yang berkembang serta ada senyum yang tertoreh.

Ketiga, jalinlah silaturahim, dalam konteks ini jika kita memandang secara komperhensif, maka membangun relasi seluas-luasnya merupakan sebuah ibadah sosial yang membentengi seseorang dari sikap exlusif, dan membangun relasi tentu akan menghasilkan peluang-peluang kebaikan lainnya sehingga kebermanfaatan dan kerjasama kian terjalin antarsesama manusia.

Keempat, Ibadah salat malam merupakan ibadah yang tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang, membagi waktu untuk bias bercengkrama dengan sang Pencipta di sepertiga malam adalah sebuah kebiaasaan yang hanya bias dilakukan oleh orang-orang pilihan, memilih meninggalkan nyamannya keempukan harta duniawi dan bergegas menuju sang Maha abadi, beribadah dengan focus dan khusyu’.

Sungguh seluruh empat pilar pondasi kemanusiaan tersebut diatas memberikan contoh bagi kita agar tetap seimbang antara ibadah social dan ibadah individual, dan ibadah individual merupakan ibadah yang lebih dulu dipaparkan dalam hadis tersebut, hal itu tersetting karena memang ibadah-ibadah sosial yang berbobot kebaikan bagi orang banyak merupakan sebuah cerminan dari orang-orang yang menjaga teguh marwah agamanya dan mampu merepresentasikan agamanya dengan sempurna.

Islam sebagai agama yang berlabel rahmatan lil ‘ālamin selalu memberi keindahan dalam segala atmosfer kehidupan manusia, menyandingkan antara kerukunan dan kedamaian, keselarasan dan kesetaraan, kasih sayang dan kebersamaan. Keragaman angin kedamaian disampaikan dalam berbagai pesan berupa ayat maupun hadis yang banyak menyandingkan antara keimanan dan berbuat menjaga lisan sebagai sebuah upaya berbuat baik agar tidak menyakiti orang lain. Mengingatkan prinsip kerukunan tatanan bermasyarakat dengan membuat meliu yang nyaman bagi sesama manusia, saling menghormati dan peduli antar tetangga. hal ini menunjukkan sangat tingginya atensi agama islam kepada kekukunan dan kemanusiaan.

Salah satu kutipan berbahasa arab yang sangat menarik untuk kita teladani dalam kehidupan adalah sebuah ungkapan sederhana namun sarat makna, yaitu sebaris kutipan yang berbunyi:
ليس المفروض أن تكون في جيبك مصحف، ولكن المفروض أن تكون في أفعالك وأخلاقك آية

Ungkapan tersebut memiliki pesan sangat bermakna, yaitu sebuah pesan bagaimana seharusnya menjadi manusia, “Mushaf al-Qur’an itu tidak selalu harus berada disakumu, namun amalkanlah dalam setiap perbuatan dan perkataanmu cerminan/ pesan dari sebuah ayat!”.

Post a comment